"dalam tradisi minang kabau,setiap anak laki-laki suatu hari akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka,dan berjalan mencari pengalaman hidup.pengalaman hidup yang akan membuatnya menjadi Muslim lelaki sejati"



Selengkapnya...

Di atas nisan seorang tokoh agama di sebuah pemakaman tua, Webminster Abey, Inggris (1100 M) terukir sebuah sajak:

“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itu pun kupersempit. Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku. Namun nampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya.

Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa kuputuskan untuk mengubah keluargaku. tapi celakanya mereka pun tak mau diubah.

Dan kini, sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari… ‘Andaikan yang pertama kuubah adalah diriku sendiri, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia!’”

Sungguh indah kata-kata pada sajak diatas. Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari sajak ini yaitu sebuah cita-cita besar dan sebuah penyesalan. Cita-cita besar yang begitu mulia. Tapi apa yang anda lihat di akhirnya hanya ada sebuah penyesalan. Bukan cita-cita nya yang salah,tapi caranya lah yang kurang tepat dalam mewujudkan mimpi besar tersebut. Hingga ada penyesalan diakhirnya karena ia baru menyadari itu ketika ia sudah menjelang ajal. Ketika ia tak mampu lagi untuk melakukan itu semua.

Bukan tak mungkin kita berada dalam satu kondisi yang sama dengan si penulis asli dari sajak tersebut. Seorang mahasiswa yang idealis yang memiliki cita-cita agung lagi mulia. Bukan tak mungkin kita akan mengalami nasib yang sama dengan beliau. Ketika mahasiswa segala sesuatu yang berbau idealisme,pergerakan,dan perubahan akan sangat menantang bagi kita karena mungkin memang seperti itu pada hakikatnya. Tapi,apakah cara yang kita lakukan sudah benar? Jangan-jangan hanya penyesalan juga yang akan ada pada akhirnya.

Ketika kita memiliki cita-cita itu kita akan sekuat tenaga untuk melakukannya. Melakukan pergerakan untuk merubah dunia. Tapi dibalik itu diri kita sendiri ternyata tidak siap untuk mengikuti perubahan itu.

Belajar dari cerita di atas, maka perubahan yang paling efektif adalah tidak mengaharapkan orang lain berubah duluan tetapi kita sendiri mulai mengambil tindakan untuk berubah lebih dahulu dan membiarkan orang lain melihat perubahan yang terjadi dalam hidup kita, sehingga hal tersebut membawa pengaruh positif untuk mengubah kehidupan mereka.

Memang hal ini akan terasa berat karena prosesnya akan berlangsung lama dan butuh ke-konsisten-an dalam teladan. Tapi suatu keyakinan bahwa bahwa sesuatu yang dilakukan dan dicontohkan terus-menerus akan ada “ruh” nya yang akan membuat orang lain terpanggil untuk mengikuti dan meneladani. Butuh kesabaran yang tak terhingga. Tapi tak masalah karena batu yang keras pun bisa jadi berlubang oleh tetesan air yang terus-menerus jatuh pada titik batu tersebut.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan "You must be the change you want to see in the world". Kita sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang Kita inginkan terjadi dalam dunia ini. Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Janganlah mengharapkan perubahan dari dunia luar. Janganlah menunda perubahan diri hingga dunia berubah. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Diri kita saja yang tidak ikut berubah.

PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI!

catatan yang berhubungan:
Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Menjadi Lebih Baik
Capailah Citamu
Ikuti Kata Hati
Realisitis membunuh mimpi
Selengkapnya...

Labels: 2 comments | | edit post

Kata orang: untuk mengetahui apa yang ada didalam jurang kita tak perlu turun kedalam jurang tersebut. Cukup hanya dengan bertanya kepada orang yang baru saja naik kepermukaan setelah ia sebelumnya jatuh kedalam jurang tersebut.

Tak selamanya "kata orang" itu benar..
Terkadang
ada kalanya kita juga harus merasakan sendiri apa yang ada didalam jurang agar kita lebih yakin akan apa yang ada disana.

ikuti kata hati

Kata-kata pesimis dari orang yang gagal hanya akan membuat kita terpengaruh untuk ikut-ikutan tak mampu.. Selengkapnya...

Labels: 0 comments | | edit post

suatu ketika yang akan menjadi kenangan seumur hidup dan menjadi saksi yang menyatakan kalau kita pernah berjuang bersama..

Perjalanan dilanjutkan dititik ini.. saat pelantikan pertama kali bagi angkatan 2007 untuk masuk menjadi pengurus Asy-syifaa'.. kiara payung,september 2008



hingga berlanjut ke sesaat setelahnya ketika angkatan 2008 datang dan bergabung...depan mesjid Asy-syifaa,oktober 2008

perjuangan tidak berakhir disini?? siapa selanjutnya?? KAMU??
Selengkapnya...

Pagi yang cerah memulai aktivitas hari ini. Langit biru sudah menampakan cahaya yang indah dari ufuk timur pertanda matahari siap untuk menyinari alam semesta serta bumi dan isinya. Embun pagi masih membasahi udara. Udara pagi yang begitu segar menyelinap ke paru-paru memberikan kesejukan hingga jauh kedalam tubuh. Para pekerja sudah mulai bersiap atau bahkan ada yang memulai sejak gelap masih belum ditelan siang. Salah satu nya adalah ibu penjual gorengan itu.

Ibu paruh baya yang tak pernah terlihat lelah walaupun saya tahu ibu ini sudah bangun jauh sebelum azan subuh berkumandang untuk mempersiapkan dagangannya pagi ini. Wajah tirusnya selalu menampilkan senyum hangat seakan menyembunyikan,seakan tak pernah merasakan pahit getirnya kehidupan. kulitnya yang agak kusam seperti terbakar panasnya nasib.

Pagi baru menunjukan pukul 5.00,para penghuni kostan bahkan ada yang masih tidur. Sebagian lagi sudah bangun, dan baru saja pulang dari mesjid selesai menunaikan shalat subuh berjamaah. Pagi masih buta tapi suara khas ibu ini telah berkumandang untuk meneriakan dagangannya.

"assalamu'alaikum,..ncep,gorengan..bade jarajan?" sahut ibu itu dengan suara khasnya menawarkan,sembari salah satu dari kami membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan sang ibu ini untuk masuk. Walaupun tidak setiap pagi kami membeli gorengannya tapi dengan kegigihannya beliau tak pernah jera untuk menawarkan dagangannya jauh-jauh ke kosan kami.

Cerita nya yang khas dengan bahasa sunda yang kadang saya sendiri tak cukup mengerti apa yang beliau bicarakan. Mulai dari berita gempa,susunan kabinet,gosip artis,hingga warga yang kemalingan sandal tadi malam tak luput ceritanya. informasi yang didapatnya selalu update hingga memberikan kegaguman tersendiri bagi saya walaupun ia hanya penjual gorengan.

Dari ibu ini saya dapat belajar betapa besar arti sebuah kegigihan,keyakinan,pantang menyerah,kerja keras, dan kedisiplinan dalam hal ketepatan waktu. Coba bayangkan setiap hari kedatangan ibu ini ke kosan kami (avicenna-red) tak pernah berkisar antara jam 5.00 sampai dengan jam 5.10. kalaupun telat paling hanya telat lima menit. Kerja kerasnya dalam membantu perekonomian keluarga pun tak luput dari sebuah catatan yang perlu untuk diteladani. Bakul besar yang selalu disandangnya berisi berbagai macam gorengan. Kalu saya perkirakan bakul sebesar itu tak kurang dari 10 atau 15 kg. Itu yang selalu dipikulnya mulai dari pagi buta menyusuri jalan dan menemui kosan demi kosan untuk menawarkan gorengannya. Mengais rezeki mengumpulkan sedikit demi sedikit uang.

Kalau ditelusuri lebih dalam,suatu keyakinan yang ibu ini tanamkan dalam setiap aktivitas jualannya. Bahwa Alloh telah mengatur rezeki setiap manusia,sekarang tinggal bagaimana kita berusaha untuk mencari dan mengumpulkan rezki yang telah Alloh tebar dimuka bumi. Satu kata,yang penting halal. Ini yang membuat saya kagum melihat arti sebuah kerja keras dengan berlandaskan satu keyakinan atas janji Allloh. Tidak ada kata malu apalagi canggung dengan nasib yang beliau punya.

Nasib, memang tidak semua orang akan mendapatkan nasib yang sama. Ada yang dibawah ada yang diatas,ada yang baik ada yang buruk. satu hal,bahwa yang diatas itu belum tentu baik begitu juga yang dibawah itu belum tentu buruk. Mereka yang hidup pas-pasan pun boleh jadi mereka lah yang terbaik disisi Alloh. Karena mereka mensyukuri apa yang mereka dapatkan. Melihat ibu ini membuat saya kembali tersadar bahwa tidak semua orang memiliki dan mendapatkan kesempatan yang sama. Sungguh termasuk orang-orang yang dilaknat jika kita tidak mensyukuri kesempatan yang kita punya. Syukur berarti tidak menyia-nyiakannya dan merespon kesempatan itu untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada orang lain. Terutama kepada kepada mereka yang tidak mendapatkan kesempatan yang kita rasakan. Mereka ada untuk menjadi ladang amal bagi kita.

Setelah sebagian dari kami membeli gorengannya tak lupa ibu ini akan mengucapkan terima kasihnya khas sambil mengendong lagi bakul gorenganya," nuhun a..", katanya dalam bahasa sunda.

Terlepas dari kerja ibu ini sebagai penjual gorengan ibu ini tetaplah seorang Ibu bagi anak-anaknya. Ini saya dengar ketika suatu pagi beliau bercerita tentang anaknya yang mau berangkat sekolah. Masih dengan gaya khas berceritanya dan yang jelas dengan bahasa sunda. Dari sini saya tahu bahwa ia memiliki keluarga dan memiliki anak-anak yang masih kecil-kecil. Inilah yang menguatkan nya hingga sekarang terus menjajakan gorengan.Pagi-pagi buta sudah harus beranjak dari rumah. Membantu suaminya dalam mencari nafkah demi sebuah penghidupan,Demi anak-anak,Demi sebuah harapan yang ditanamkan nya pada anak-anaknya. Demi sebuah masa depan yang lebih baik yang diharapkannya dapat dirasakan oleh anak-anaknya kelak. Sungguh mulia hati seorang ibu..


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra’: 23)
Selengkapnya...