'Kunjungan' ke Maranatha


sebuah perjalanan yang membuka hati telah saya lakukan kemaren,yaitu kunjungan ke Maranatha. pernah dengar maranatha?? universitas kristen terkemuka di bandung.
kunjungan ini dalam rangka silaturahim sekaligus pendampingan dari FULDFK (Forum Ukhuwah lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran se-Indonesia,suatu perkumpulan mahasiswa kedokteran muslim se indonesia)

mungkin agak sedikit membingungkan ngapain forum mahasiswa muslim ke markas kristen. awalnya saya sendiri mengira karena namanya universitas kristen mahasiswanya juga kristen semua tapi suatu informasi yang cukup mengejutkan yang saya dapat ketika sampai disana,ternyata 25 % mahasiswa mereka adalah Muslim.

seperti halnya universitas dengan latar belakang agama lainnya pastinya universitas yang satu ini juga memasukan nilai-nilai agama mereka ke dalam sistem perkuliahan. mulai dari masalah jadwal kuliah tentunya tidak akan ada istirahat untuk shalat,harus keluar dari perkuliahan kala shalat jum'at dan juga dosennya yang hampir 99% tentunya adalah penganut agama yang satu itu,dan tidak heran juga jika ada dosen mereka yang pendeta.

waktu kesana kami memang tidak sampai masuk ke kampus hanya di lingkungan pemukiman sekitar kampus. pemandangan yang cukup unik( tak perlu heran juga sebenarnya) hampir semua mahasiswa yang ditemui memiliki mata sipit kulit putih rambut lurus ciri khas cina tulen dan yang pasti mereka adalah penganut kristen. seolah lingkungan itu sudah menjadi perkampungan cina kristen.

tujuan kami kesana bukanlah untuk melihat orang-orang yang saya ceritakan diatas melainkan untuk mengunjungi saudara-saudara muslim kita yang berada disana. cukup miris memang,dimana disana kata mereka ada aturan yang tidak memperbolehkan adanya perkumpulan lain selain kelompok dengan embel-embel kristen. tapi itu cukup bisa dikatakan wajar karena daerah itu (baca:universitas kristen maranatha) adalah wilayah kekuasaan mereka. Dan tidak patut diherankan juga kalau disana tidak ada tempat untuk shalat. tapi dari informasi yang kami dapatkan ada disediakan tempat shalat yang hanya berukuran 2x3 meter itupun karena permintaan pegawai yang sudah cukup lama bekerja disana dan katanya lagi tempat shalat itu ditempatkan dibasement bawah tangga dekat WC.subhanallah

seperti cerita tadi diatas kalau kalian kesana akan terasa sekali aura kristen dilingkungan kampus itu,mulai dari orang-orang yang yang dengan ciri khasnya sudah bisa ditebak mereka beragama apa sampai ke atribut-atribut atau embel-ambel salib yang ada dimana-mana.

itulah perjuangan yang dilakukan oleh sebagian teman-teman kita yang ada disana. berjuang untuk mempertahankan aqidah ditengah lingkungan yang sama sekali tidak mendukung. dari 25% yang tadi saya katakan paling yang ada cuma beberapa orang yang bisa dikatakan fokus untuk mempertahan aqidah itu. mereka menamakan diri DKM al-had sekaligus menjadi pengelola sebuah mesjid dilingkungan pemukiman dekat kampus mereka. mereka membentuk perkumpulan diluar kampus karena seperti tadi saya katakan bahwa dikampus tidak akan dibolehkan selain perkumpulan kristen apalagi islam.

sebuah perjuangan dakwah yang sangat "berasa" jika dibandingkan dengan di tempat lain. dengan DKM (tahun ini kata mereka akan diubah namanya menjadi 'forum',strategi mereka agar lebih diterima) itulah mereka seolah menjadi secercah cahaya di tengah kegelapan untuk minimal mengajak teman-teman muslim yang lain agar tetap tidak meninggalkan shalat.

sudah sepatut kita bersyukur lebih banyak karena kita masih diperkenankan untuk berada dilingkungan kampus yang masyarakatnya mayoritas islam,tempat shalat sudah tersedia,waktu shalat selalu disediakan,dan dengan administrasi yang mendukung untuk tetap beribadah.

saya pribadi merasa 'tertohok' (pinjam istilah teh mia) melihat perjuangan mereka disana,berjuang untuk tetap dapat beribadah sambil mengajak teman muslim yang lain agar menjaga nilai-nilai keislaman.

benar kata orang dimana orang merasa nyaman disitu mereka tidak 'berpikir' lebih.

mungkin disini kita terlalu merasa nyaman,merasa kita yang dominan hingga akhirnya ada teman-teman kita yang dimurtadkan kita baru menyadarinya.

teruntuk teman-teman di al-had selamat berjuang untuk tetap dijalan dakwah,untuk tetap menjaga identitas dan nilai keislaman. jadilah seteguk air yang sangat dibutuhkan ditengah gurun yang gersang. salut untuk perjuangan kalian semoga menjadi pelajaran yang sangat berharaga bagi kami dan bagi kita semua.amiin..

15 komentar:

  1. stuju..

    mau koreksi sedikit,,bukan DKM al-had,,tapi al-haq..

    yg membuat saya tertohok adalah,,pernyataan dito (representatif DKM al-haq) ketika bercerita ttg apa yg dituliskan nesta, yg bunyinya begini:
    "..yaa beginilah perang kami disini,,disana?(unpad) perangnya bagaimana?"

    jujur saat itu saya speechless,,mncoba mencari jawaban,,apa yaah masalah kita??
    namun,nampak tak ada suatu hal yg bgitu besar yg bisa kita 'banggakan' sbg sbuah masalah..yg sebanding dgn perjuangan mereka.

    apa yg biasa kita keluhkan?
    1. acara DKM yg dibilang kurang sukses karna pesertanya sedikit?
    - jumlah muslim disana jauh lebih sedikit
    2. urusan birokrasi proposal kegiatan yang ribet?
    - bahkan mereka tidak diakui legalitasnya
    3. jadwal rapat yg padat?
    - utk bisa saling berkumpul saja mereka harus ke luar kampus, menggunakan masjid penduduk disekitar
    4. kesulitan mencari pementor?
    - mereka lebih sering berdiskusi sendiri ttg islam walau tidak ada pementor
    5. merasa bekerja sendiri? mrasa slalu kurang orang?
    - 'aktivis' disana kurang dari 5 orang, mrekalah yg berjuang,berdakwah pd smua muslim di UNIVERSITAS itu. Di tataran fakultas, lebih sedikit lagi hitungannya
    6. mentoring yang ga jalan?
    - utk penjagaan ruhiyah saja mereka sulit, acara kajian2 islam bisa dipastikan lebih jarang diadakan dibanding kita yg bisa kapan saja mengadakannya..
    7. upgrading pengurus yg 'terlantar'?
    - jumlah pengurus saja,mereka tdk bisa menentukan,,ga jelas,,pokonya siapapun yg muslim, mereka adalah al-haq
    8. dana yg kurang?
    - mereka harus merogoh saku sendiri utk bisa mnegadakan kegiatan keislaman disana

    banyak sekali yg bisa kita syukurii jika kita mau merenung,,
    sungguh nikmat luar biasa yg sudah kita rasakan disini, jangan sampai membuat kita terlena...
    setelah besyukur, lalu apa?
    jangan sekedar kalimat hamdalah yg terucap, seyogyanya suatu amal/aksi nyata bisa kita lakukan utk mengekspresikan rasa syukur kita..

    mengapa kita tidak lebih militan dibanding pejuang2 dakwah disana? dengan segala fasilitas yg ada?

    beda ruang lingkup, beda effort
    setiap manusia memiliki masalahnya masing2,,
    begitu juga kita,,
    mereka dengan tahap "pembuatan pondasi"-nya..
    kita dengan tahap "ekspansi"-nya..
    sama2 membutuhkan usaha keras dari tiap elemennya..


    wallahu'alam..

    teruntuk para pejuang dakwah dimana saja:
    keep fight!
    terus berjuang!
    tak kan patah karna lelah, coz it's LILLAH!

    BalasHapus
  2. asslm..

    benar kata orang dimana orang merasa nyaman disitu mereka tidak 'berpikir' lebih.

    terima kasih, ini kalimat yang saya cari,,

    dinda

    BalasHapus
  3. kok kayaknya nge-judge banget ya kalo kaum muslim di maranatha itu 'tersiksa' banget??

    engga kok.. malah kalau ada yang bilang kampus paling menolerir perbedaan agama adalah marantaha..
    *mengingat judul kampus ini adalah kristen maranatha

    tidak ada tuh pemberlakukan aturan aneh-aneh..
    mmg tidak disediakan jadwal sholat..
    tapi kalau ujian (event) penting..
    suka disediakan waktu khusus buatnya..

    coba bandingkan dengan univ islam..
    bahkan yang kristen 'dipaksa' memakai jilbab..

    truz masalah tempat sholat..
    OK lah mungkin bersebalahan dengan WC
    tapi udah pernah lihat bangunannya sebelum komentar? nice looking kok..
    *mengingat ini univ kristen

    nah??
    memang ga bisa kan dibandingkan untuk 'persamarataan' hak..
    dari awal juga kampus ini telah memansang judul "universitas Kristen Maranatha"
    yah.. yang jadi pertanyaan..
    kenapa ada agama lain yang tetap masuk??
    banyak pula.. sampai 25 %
    itu kan artinya banyak orang merasa 'nyaman' di maranatha...

    bahkan sampai banyaknya yng beragama lain..
    telah ada fakultas yang menghilangkan mata pelajaran agama di tempatnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang nih si pembuat nya aneh

      ingin memecah belah kali ya .

      Hapus
  4. betul betul Universitas yang masih tergolong demokratis walaupun pake embel-embel Kristen.... ga kaya Universitas yang pake embel2 agama lain...

    BalasHapus
  5. kalo cma masalah lokasi majid mah lebih parah SPBU di Megamendung, arah ke puncak. Persis ngadep WC terbuka!!.., bau lagi.., padahal yg ngurus dan yg punya konon pa Haji juga..
    yg disalahkan.. arsiteknya...

    BalasHapus
  6. Lagian, ngapain pula kuliah di kandang orang, hahaha. kuliah di universitas yang umum aja.

    BalasHapus
  7. seandainya para mahasiswa muslim itu punya pilihan, tentu mereka ingin masuk ke univ yg umum

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhhmm comentnya aneh..maranatha itu univ yg lumayan mahal bro..maksud dari pernyataan "andai punya pilihan itu apa?"..ga relevan..kalo nyari yg murah banyak..nyari yang bagus juga banyak x..tpi knp pilih maranatha itu bukan karena ga punya pilihan,,tapi emang sengaja pilih di maranatha keles...

      Hapus
  8. atau... emang rezeki atau jalannya yang Allah kasih disitu?

    Allah maha penjaga, tinggal kitanya yang harus selalu menggantungkan diri dan istiqomah...

    Bismillah ajaa...

    BalasHapus
  9. lebay ya postingannya seolah-olah disono ga toleran aja. saran gua kalo cuman lewat depannya doang dan ga masuk mending gausa ngepost deh. btw rasis postingannya..

    BalasHapus
  10. Saya berkuliah di maranatha dan saya islam. Sejauh ini saya tidak merasa adanya kesulitan beribadah seperti yg anda jelaskan, malah teman-teman yg ada sebut "kristen" itu yg selalu mengingatkan saya untuk beribadah. Disini kami belajar bertolerir bukan belajar saling rasis seperti posting yg anda buat. Alasan saya memilih maranatha karena seperti yg orang-orang ketahui bahwa kualitas pendidikan yg diterapkan dalam sistem mengajar dapat dikatakan sangat baik. Tentu saya juga ingin masuk ke ptn negeri namun sejauh ini saya tidak menyesali keberadaan saya dan status saya sebagai mahasiswa univ kristen. Sistem perkuliahan yg baik dan jejak rekam alumni maranatha sendiri dapat dinilai sangat baik dan malah mengungguli beberapa ptn lain dan pts yg bersifat islami. Dimohon sebelum mengkritik pikiran anda harus dibuka selebar mungkin tentang toleransi umat beragama dan jangan rasis. Terimakasih.

    BalasHapus
  11. Saya muslim di maranatha. Saya mau menambahkan, jika Universitas Kristen Maranatha saat ini memiliki 4 buah mushola. Yaitu di ex gedung FSRD kapasitas 21 orang, Basement 1 GWM Kapasitas 11 orang,Ged. ekonomi lantai 2 kapasitas 11 orang serta Basement 1 GSG kapasitas >60 jamaah. Yang muslimah boleh berjilbab(tidak ada paksaan melepaskan hijab). Selama ospek disediakan waktu solat&disediakan ruangan khusus agar bisa menampung seluruh mahasiswa baru beragama islam, saat ospek dan bertepatan solat jumat disediakan ruangan khusus utk solat jumat dan dipanggilkan ustadz untuk menjadi khotib&imam. Kebanyakan jadwal kuliah tidak mengganggu waktu solat, serta hari jumat waktu mengajar berhenti pada jam 11-13 itu jam istirahat&ibadah(krn yg kristen juga kebaktian di GSG).Kalo ada baksos, sering baksosnya ke panti asuhan islam, tahun 2016 silam bahkan pihak kampus memfasilitasi konsumsi untuk kegiatan buka puasa bersama anak yatim. Untuk mahasiswa non-Kristen mata kuliah agama kristen diganti dengan fenomenologi agama. Coba bandingkan dengan Universitas dengan background islam, apakah menyediakan fasilitas tempat ibadah bagi yg non muslim? Saya merasa nyaman kuliah di Maranatha, karena toleransi yang tinggi. Sistem pendidikan diatas rata-rata, fasilitas kelas atas, namun tetap berbaur dengan lingkungan sekitar. Bisa dibilang Universitas ini sama saja seperti universitas umum yg tidak bawa embel2 agama.

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus