Kenapa Mereka Bisa?

Serung kali muncul sebuah pertanyaan mendasar yang mungkin sering kita tanyakan. Baik itu pertanyaan secara langsung pada orang lain maupun bertanya pada siri sendiri. Pertanyaannya, Kenapa mereka bisa menjadi "pemenang"? Atau sederhanya kenapa mereka bisa sukses. Sukses yang dimaksud disini adalah sukses dalam hal apa pun yang membuat mereka menjadi lebih baik dari orang lain. Ternyata setelah ditelusuri jawabannya adalah karena mereka berbeda dari rata-rata orang kebanyakan. Perbedaannya itu adalah mereka memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain.

Mau tahu apa lebihnya?
Mereka berusaha lebih banyak dari yang lain. Mereka berjuang dengan usaha diatas rata-rata yang dilakukan orang lain.

Tulisan, Bentuk Komunikasi Antar Generasi

Semakin kesini saya semakin menyadari kekuatan sebuah tulisan. Tulisan saya yakini adalah sebuah bentuk pengabadian sebuah pemikiran. Terkadang pikiran yang abstrak pun bisa dijadikan "pemikiran" kalau sudah diterjemahkan dalam bentuk tulisan. Pemikiran tanpa ada bentuk nyatanya dalam bentuk tulisan hanya akan menjadi sesuatu yang mengawang. Ibarat debu di udara akan terombang ambing sesuai arah angin, terbang kearah manapun tanpa bisa di kendalikan.

Tulisan juga merupakan bentuk komunikasi antar generasi. Apa yang ada sekarang belum tentu ada di generasi selanjutnya tanpa mereka tahu apa yang terjadi saat ini. Apa yang kita rasakan saat ini tak akan bisa diturunkan dengan baik kegenerasi selanjutnya jika tidak berupa tulisan, karena bahasa verbal begitu rentan untuk terjadi pergeseran dari kemurniannya.

Malas dan Lemah, Tidak untuk Keduanya


Malas berarti mampu tapi tidak mau,lemah berarti mau tapi tidak mampu..

Tidak jarang kita akan mengalami dua hal diatas. Semua orang InsyaAlloh pasti pernah mengalami keduanya.
Dan bersyukurlah untuk kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga menghindarkan kita dari kelemahan. Faktanya tidak semua orang terlahir dengan kekuatan yang sama, maka apa lagi yang disesali dengan segala kelebihan yang telah dititipkan kepada kita? Anda bisa bayangkan banyak orang yang punya keinginan tapi tidak bisa melakukan atau mendapatkan karena keterbatasan yang dimilikinya. Lalu apakah kita akan menjadi orang yang menyia-nyiakan kemampuan yang kita miliki hanya untuk bermalas-malasan?

Banyak orang yang ingin beramal tapi ia tidak bisa melakukannya karena ia tidak mampu untuk itu. Banyak orang yang ingin bisa belajar dan sekolah tapi tidak memiliki kemampuan untuk itu. Banyak orang ingin bisa melihat, berjalan, mendengar, tapi tidak memiliki nya. Ada juga orang ynag ingin sekali bisa punya banyak uang untuk bisa menolong orang lain, tapi pada kenyataannya mereka tidak punya itu. Mereka memiliki kelemahan, dalam hal ini mereka punya keinginan tapi tidak dalam hal kemampuan.

Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki uang yang banyak, tapi tidak punya keinginan untuk membagi rizki nya kepada orang lain. Lalu bagaimana juga dengan orang yang memiliki kemampuan lebih tapi hanya untuk segala yang berhubungan dengan kepentingan pribadinya saja. Lalu bagaimana juga dengan orang yang memiliki kekuatan kaki untuk bisa berjalan, mata yang bisa melihat tapi tidak punya kemauan untuk menggunakan kekuatannya hanya sekedar untuk shalat ke mesjid?

kelemahan adalah suatu yang tidak lagi bisa dipaksakan karena takdir sudah berbicara demikian. Tapi tidak dengan kemalasan, kemalasan adalah bentuk dari kufur nikmat, bentuk kita tidak mensyukurinya. Diberikan segala kelebihan tapi tidak digunakan untuk kebaikan dalam rangka mensyukurinya.

"Ya Alloh aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan"(alma'surat)

Hati yang Membeku

Musik terus berdentang dengan merdu seraya menunjukan indahnya prakarsa seni. kata-katanya mengalun indah mengingatkan jati diri,bukan karena suaranya apalagi nama penyanyinya,tapi karena lirik yang disenandungkan,karena makna yang dihamburkannya..

Hati yang selama ini membeku seakan mulai mencair menemukan makna dan arti kehidupan. Selama ini seakan bersembunyi,sekarang mulai menyeruak ke permukaan,menunjukan makna yang begitu kompleks namun sederhana jika ingin dipahami. Hidup itu begitu luas dan akan menjadi seluas kita memaknainya dan sesempit kita melihatnya.

Kita bisa melihat luasnya dunia,namun kita belum tentu bisa melihat dalamnya hati. Kita bisa melihat tingginya langit tapi dengan kemampuan itu kita belum tentu bisa merasakan rendahnya diri. Kita bisa melihat megahnya dunia tapi dengan itu kita belum tentu bisa merasakan megah nan indah dalam arti yang sesungguhnya. Karena kehidupan itu sederhana nan kompleks untuk dipahami.

Rasa bangga akan diri sendiri tak akan memberikan apa-apa kecuali keinginan untuk menjadi lebih. Disitu lah titik yang menutupi makna,melingkupi mata untuk melihat,menggelapkan jiwa untuk bisa merasa,mengeraskan hati untuk bisa mencari dan menemukan makna nan kompleks tapi sederhana.

Melihat keluar dan mengagumi tak ada larangan dalam melakukannya,jangan menutup diri untuk bisa memahami karena disitu lah ketika yang akan membukakan dan memberikan cahaya penerangan. Cahaya yang memberikan arah,membantu indera untuk meniti jalannya hingga menemukan jalan yang sesungguhnya.

Hati yang selama ini tertutup mulai membuka untuk dirasuki cahaya. Semoga tetap begitu dan terus begitu karena lewat pintu yang sempit itu lah pencerahan akan memberikan keindahan dan mulai mengajarkan makna agar sang hati membuka pintu lebih lebar.
Hati yang selama ini angkuh dengan kedudukanya yang tak berarti apa-apa mulai menemukan makna. Makna yang akan menjadikannya indah dalam arti yang sebenarnya.

Hati yang membeku mulai menemukan cahaya
Jatinangor,7 april 2010
20.18


Hidup Adalah Tanggung Jawab Mu Sendiri

Hasan Bashri ditanya tentang rahasia zuhudnya

Ia mjwb,"Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain,karena itulah qolbuku selalu tenang.Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat ditunaikn orang lain,karena itulah aku sibuk mengerjakannya.Aku tahu Allah mengawasiku,karena itulah aku selalu merasa malu bila Dia mlihatku dalam keadaan maksiat.Aku tahu kematian itu sudah menungguku,karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah."